
WISATA PEMANDIAN SUMBER MARON
Wisata Pemandian Sumber Maron dengan kejernihan air yang begitu jernih.
BENDUNGAN SUMBER MARON
Bendungan SUMBER MARON yang dapat menampung debit air, menjadikan sumber energi Listrik Tenaga Micro Hidro (PLTMH).
TENAGA LISTRIK MICRO HIDRO
Terinstalasinya Listrik Micro Hidro menjadikan salah satu potensi yang sangat membanggakan masyarakat setempat.
LOKASI STUDY BANDING dan WAHANA EDUKASI
Tempat Wisata Pemandian "Sumber Maron" dan Tenaga Listrik Micro Hidro menjadikan salah satu Wahana Edukasi dan Study Banding bagi semua kalangan baik lokal maupun internasional.
KEINDAHAN AIR TERJUN "GROJOKAN SEWU"
Wisatawan yang selalu membanjiri lokasi Tempat Wisata Sumber Maron dengan keindahan Air Terjun "Grojokan Sewu".
Minggu, 28 Agustus 2016
Aktivitas KKN Universitas Kanjuruhan Malang Tahun 2016 Desa Karangsuko Kec.Pagelaran

Selasa, 29 September 2015
Program Kelompok Tani "Pangan Makmur " Menghadapi Swasembada Pangan 2017
Untuk merealisasikan target swasembada pangan yang dijadikan fokus
pemerintahan Jokowi, Kementerian Pertanian melakukan akselerasi dengan
cara perbaikan irigasi, distribusi bibit dan pupuk, juga bantuan
pendagaan alsintan (alat & sistem pertanian). Seperti yang termaktub
dalam peraturan menteri pertanian No. 3 Tahun 2015 tentang Pedoman Upaya
Khusus Peningkatan Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai.Kelompok Tani (Poktan) "Pangan Makmur" Desa Karangsuko, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang telah mempunyai Program - Program yang nantinya bisa di implementasikan dalam meningkatkan jumlah produksi panen tanaman pangan.
Adapun Program-Program untuk mencapai target Swasembada Pangan diantaranya :
1. Pengendalian Hama Tikus.
Senin, 07 September 2015
Mulai Pudarnya Budaya "Gotong Royong"
- Sederhana; Sebagian besar masyarakat desa hidup dalam kesederhanaan. Kesederhanaan ini terjadi karena dua hal: a. Secara ekonomi memang tidak mampu ; b. Secara budaya memang tidak senang menyombongkan diri;
- Mudah curiga; Secara umum, masyarakat desa akan menaruh curiga pada: a) Hal-hal baru di luar dirinya yang belum dipahaminya b) Seseorang/sekelompok yang bagi komunitas mereka dianggap “asing”
- Menjunjung tinggi “unggah-ungguh”. Sebagai “orang Timur”, orang desa sangat menjunjung tinggi kesopanan atau “unggah-ungguh” apabila: a) Bertemu dengan tetangga; b) Berhadapan dengan pejaba; c) Berhadapan dengan orang yang lebih tua/dituakan d) Berhadapan dengan orang yang lebih mampu secara ekonomi; dan e) Berhadapan dengan orang yang tinggi tingkat pendidikannya
- Guyub, kekeluargaan; Sudah menjadi karakteristik khas bagi masyarakat desa bahwa suasana kekeluargaan dan persaudaraan telah “mendarah-daging” dalam hati sanubari mereka.
- Lugas; “Berbicara apa adanya”, itulah ciri khas lain yang dimiliki masyarakat desa. Mereka tidak peduli apakah ucapannya menyakitkan atau tidak bagi orang lain karena memang mereka tidak berencana untuk menyakiti orang lain. Kejujuran, itulah yang mereka miliki.
- Tertutup dalam hal keuangan; Biasanya masyarakat desa akan menutup diri manakala ada orang yang bertanya tentang sisi kemampuan ekonomi keluarga. Apalagi jika orang tersebut belum begitu dikenalnya. Katakanlah, mahasiswa yang sedang melakukan tugas penelitian survei pasti akan sulit mendapatkan informasi tentang jumlah pendapatan dan pengeluaran mereka.
- Perasaan “minder” terhadap orang kota. Satu fenomena yang ditampakkan oleh masayarakat desa, baik secara langsung ataupun tidak langsung ketika bertemu/bergaul dengan orang kota adalah perasaan mindernya yang cukup besar. Biasanya mereka cenderung untuk diam/tidak banyak omong.
- Menghargai (“ngajeni”) orang lain. Masyarakat desa benar-benar memperhitungkan kebaikan orang lain yang pernah diterimanya sebagai “patokan” untuk membalas budi sebesar-besarnya. Balas budi ini tidak selalu dalam wujud material tetapi juga dalam bentuk penghargaan sosial atau dalam bahasa Jawa biasa disebut dengan “ngajeni”.
- Jika diberi janji, akan selalu diingat; Bagi masyarakat desa, janji yang pernah diucapkan seseorang/komunitas tertentu akan sangat diingat oleh mereka terlebih berkaitan dengan kebutuhan mereka. Hal ini didasari oleh pengalaman/trauma yang selama ini sering mereka alami, khususnya terhadap janji-janji terkait dengan program pembangunan di daerahnya.
- Suka gotong-royong. Salah satu ciri khas masyarakat desa yang dimiliki dihampir seluruh kawasan Indonesia adalah gotong-royong atau kalau dalam masyarakat Jawa lebih dikenal dengan istilah “sambatan”. Uniknya, tanpa harus dimintai pertolongan, serta merta mereka akan “nyengkuyung” atau bahu-membahu meringankan beban tetangganya yang sedang punya “gawe” atau hajatan. Mereka tidak memperhitungkan kerugian materiil yang dikeluarkan untuk membantu orang lain. Prinsip mereka: “rugi sathak, bathi sanak”. Yang kurang lebih artinya: lebih baik kehilangan materi tetapi mendapat keuntungan bertambah saudara.
- Demokratis; Sejalan dengan adanya perubahan struktur organisasi di desa, pengambilan keputusan terhadap suatu kegiatan pembangunan selalu dilakukan melalui mekanisme musyawarah untuk mufakat. Dalam hal ini peran BPD (Badan Perwakilan Desa) sangat penting dalam mengakomodasi pendapat/input dari warga.
- Religius; Masyarakat pedesaan dikenal sangat religius. Artinya, dalam keseharian mereka taat menjalankan ibadah agamanya. Secara kolektif, mereka juga mengaktualisasi diri ke dalam kegiatan budaya yang bernuansa keagamaan. Misalnya: tahlilan, rajaban, Jumat Kliwonan, dll.
Selasa, 01 September 2015
PROGRAM PENGOBATAN GRATIS DARI KKN UMM '87
Senin, 31 Agustus 2015
KARNAVAL UMUM DESA KARANGSUKO
Rabu, 12 Agustus 2015
BANK DUNIA Kagumi PLTMH Sumber Maron
Kamis, 06 Agustus 2015
Tender Bermasalah, Kabupaten Kehabisan Blangko E-KTP
Ratusan SDN di Kab Malang Tanpa Kepala Sekolah
Asyiknya Berpetualang di Museum Malang Tempo Doeloe
ingin berkunjung ke museum dengan nuansa yang berbeda? Ya, Museum Malang Tempo Doeloe jawabannya. Kalau museum pada umumnya terlihat kuno dan kurang menarik, di museum ini Anda akan menjumpai suasana fresh dan sangat modern. Image horor dan jadul samasekali tidak tampak di museum ini. Tak lengkap rasanya jika berwisata ke kota apel tidak mengunjungi Museum Malang Tempo Doeloe.













































