WISATA PEMANDIAN SUMBER MARON

Wisata Pemandian Sumber Maron dengan kejernihan air yang begitu jernih.

BENDUNGAN SUMBER MARON

Bendungan SUMBER MARON yang dapat menampung debit air, menjadikan sumber energi Listrik Tenaga Micro Hidro (PLTMH).

TENAGA LISTRIK MICRO HIDRO

Terinstalasinya Listrik Micro Hidro menjadikan salah satu potensi yang sangat membanggakan masyarakat setempat.

LOKASI STUDY BANDING dan WAHANA EDUKASI

Tempat Wisata Pemandian "Sumber Maron" dan Tenaga Listrik Micro Hidro menjadikan salah satu Wahana Edukasi dan Study Banding bagi semua kalangan baik lokal maupun internasional.

KEINDAHAN AIR TERJUN "GROJOKAN SEWU"

Wisatawan yang selalu membanjiri lokasi Tempat Wisata Sumber Maron dengan keindahan Air Terjun "Grojokan Sewu".

Tampilkan postingan dengan label umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label umum. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Agustus 2016

Aktivitas KKN Universitas Kanjuruhan Malang Tahun 2016 Desa Karangsuko Kec.Pagelaran


Kunjungan DPL di Posko KKN Universitas Kanjuruhan Malang Di Desa Karang suko
Dalam memberi bimbingan dan Sharing berkenaan dengan Program Kerja



Kegiatan Program Kerja Lomba Balap kelereng dalam Mempringati HUT Kemerdekaan RI Yang Ke 71 di lakukan di kantor desa karang suko

Lomba Puisi antar SD/MI desa karang suko dalam Rangka mempringati HUT kemerdekaan RI yang ke 71 yang di laksanakan di kantor desa karang suko

Ikut Memeriahkan Karnafal di desa karangsuko yang diadakan di lapangan desa karangsuko

Perpisahan KKN Universitas Kanjuruhan Malang Dilakukan acara Tasakuran DI Desa KarangSuko
Kecamatan Pagelaran


Selasa, 29 September 2015

Program Kelompok Tani "Pangan Makmur " Menghadapi Swasembada Pangan 2017

Untuk merealisasikan target swasembada pangan yang dijadikan fokus pemerintahan Jokowi, Kementerian Pertanian melakukan akselerasi dengan cara perbaikan irigasi, distribusi bibit dan pupuk, juga bantuan pendagaan alsintan (alat & sistem pertanian). Seperti yang termaktub dalam peraturan menteri pertanian No. 3 Tahun 2015 tentang Pedoman Upaya Khusus Peningkatan Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai.

Kelompok Tani (Poktan) "Pangan Makmur" Desa Karangsuko, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang telah mempunyai Program - Program yang nantinya bisa di implementasikan dalam meningkatkan jumlah produksi panen tanaman pangan. 
Dengan letak geografis dan luas lahan pertanian kurang lebih 125 Ha dan pasokan air yang cukup memadai, maka program yang telah dicanangkan oleh Pemerintah dalam Swasembada Pangan akan terealisasi dengan baik.

Adapun Program-Program untuk mencapai target Swasembada Pangan diantaranya :

1. Pengendalian Hama Tikus.


Perangkap Tikus dengan menggunakan Bubu

Gotong-royong mendirikan Rumah Burung Hantu

Rumah Burung Hantu

Persemaian Berkelompok

2. Pelatihan Budidaya Tanaman Padi (Sekolah Lapang).


3. Study Banding



4. Kluster dari Bank Indonesia Malang.
 

Semoga dengan program-program yang telah dicanangkan oleh Kelompok Tani "Pangan Makmur" Desa Karangsuko ini bisa berjalan dengan baik...




Senin, 07 September 2015

Mulai Pudarnya Budaya "Gotong Royong"

Masyarakat adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.
Masyarakat desa adalah masyarakat yang kehidupannya masih banyak dikuasai oleh adat istiadat lama. Adat istiadat adalah sesuatu aturan yang sudah mantap dan mencakup segala konsepsi sistem budaya yang mengatur tindakan atau perbuatan manusia dalam kehidupan sosial hidup bersama, bekerja sama dan berhubungan erat secara tahan lama, dengan sifat-sifat yang hampir seragam.

Masyarakat pedesaan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Sederhana; Sebagian besar masyarakat desa hidup dalam kesederhanaan. Kesederhanaan ini terjadi karena dua hal: a. Secara ekonomi memang tidak mampu ; b. Secara budaya memang tidak senang menyombongkan diri;
  2. Mudah curiga; Secara umum, masyarakat desa akan menaruh curiga pada: a) Hal-hal baru di luar dirinya yang belum dipahaminya b) Seseorang/sekelompok yang bagi komunitas mereka dianggap “asing”
  3. Menjunjung tinggi “unggah-ungguh”. Sebagai “orang Timur”, orang desa sangat menjunjung tinggi kesopanan atau “unggah-ungguh” apabila: a) Bertemu dengan tetangga; b) Berhadapan dengan pejaba; c) Berhadapan dengan orang yang lebih tua/dituakan d) Berhadapan dengan orang yang lebih mampu secara ekonomi; dan e) Berhadapan dengan orang yang tinggi tingkat pendidikannya
  4. Guyub, kekeluargaan; Sudah menjadi karakteristik khas bagi masyarakat desa bahwa suasana kekeluargaan dan persaudaraan telah “mendarah-daging” dalam hati sanubari mereka.
  5. Lugas; “Berbicara apa adanya”, itulah ciri khas lain yang dimiliki masyarakat desa. Mereka tidak peduli apakah ucapannya menyakitkan atau tidak bagi orang lain karena memang mereka tidak berencana untuk menyakiti orang lain. Kejujuran, itulah yang mereka miliki.
  6. Tertutup dalam hal keuangan; Biasanya masyarakat desa akan menutup diri manakala ada orang yang bertanya tentang sisi kemampuan ekonomi keluarga. Apalagi jika orang tersebut belum begitu dikenalnya. Katakanlah, mahasiswa yang sedang melakukan tugas penelitian survei pasti akan sulit mendapatkan informasi tentang jumlah pendapatan dan pengeluaran mereka.
  7. Perasaan “minder” terhadap orang kota. Satu fenomena yang ditampakkan oleh masayarakat desa, baik secara langsung ataupun tidak langsung ketika bertemu/bergaul dengan orang kota adalah perasaan mindernya yang cukup besar. Biasanya mereka cenderung untuk diam/tidak banyak omong.
  8. Menghargai (“ngajeni”) orang lain. Masyarakat desa benar-benar memperhitungkan kebaikan orang lain yang pernah diterimanya sebagai “patokan” untuk membalas budi sebesar-besarnya. Balas budi ini tidak selalu dalam wujud material tetapi juga dalam bentuk penghargaan sosial atau dalam bahasa Jawa biasa disebut dengan “ngajeni”.
  9. Jika diberi janji, akan selalu diingat; Bagi masyarakat desa, janji yang pernah diucapkan seseorang/komunitas tertentu akan sangat diingat oleh mereka terlebih berkaitan dengan kebutuhan mereka. Hal ini didasari oleh pengalaman/trauma yang selama ini sering mereka alami, khususnya terhadap janji-janji terkait dengan program pembangunan di daerahnya.
  10. Suka gotong-royong. Salah satu ciri khas masyarakat desa yang dimiliki dihampir seluruh kawasan Indonesia adalah gotong-royong atau kalau dalam masyarakat Jawa lebih dikenal dengan istilah “sambatan”. Uniknya, tanpa harus dimintai pertolongan, serta merta mereka akan “nyengkuyung” atau bahu-membahu meringankan beban tetangganya yang sedang punya “gawe” atau hajatan. Mereka tidak memperhitungkan kerugian materiil yang dikeluarkan untuk membantu orang lain. Prinsip mereka: “rugi sathak, bathi sanak”. Yang kurang lebih artinya: lebih baik kehilangan materi tetapi mendapat keuntungan bertambah saudara.
  11. Demokratis; Sejalan dengan adanya perubahan struktur organisasi di desa, pengambilan keputusan terhadap suatu kegiatan pembangunan selalu dilakukan melalui mekanisme musyawarah untuk mufakat. Dalam hal ini peran BPD (Badan Perwakilan Desa) sangat penting dalam mengakomodasi pendapat/input dari warga.
  12. Religius; Masyarakat pedesaan dikenal sangat religius. Artinya, dalam keseharian mereka taat menjalankan ibadah agamanya. Secara kolektif, mereka juga mengaktualisasi diri ke dalam kegiatan budaya yang bernuansa keagamaan. Misalnya: tahlilan, rajaban, Jumat Kliwonan, dll.
Ciri-ciri yang telah diungkapkan di atas yang seharusnya menjadi identitas mereka, di sebagian masyarakat pedesaan hal tersebut telah pudar bahkan sebagian lagi telah hilang ditelan zaman. Contoh konkrit, gotong royong. Masyarakat pedesaan tempo dulu menjadikan gotong royong sebagai sebuah kearifan lokal. Bahkan menjadi sebuah gunjingan di kalangan masyarakat jika ada seseorang yang tidak mau ikut campur dalam kegiatan tersebut. Tapi sekarang, hal ini telah dilupakan dan terkesan individualis, yang notabene hidup individualis adalah ciri masyarakat perkotaan dan perumahan.

Hal di atas saya utarakan lihat ketika saya sering berkunjung bersilaturahmi kepada keluarga di kampung. Atmosfir yang saya rasakan jauh berbeda dengan dahulu ketika hidup di sana. Sebuah misal, jika ada seseorang yang baru datang berbelanja untuk bahan bangunan, seperti pasir, genteng, semen, dan sebagainya, dalam sekejap bahan tersebut dari pinggir sudah habis di angkut ke lokasi di mana orang tersebut mau membangun, tanpa sepeser pun upah yang dikeluarkan, paling hanya sekedar air dan makanan alakadarnya. Tapi sekarang, hal itu sudah tidak dapat dirasakan lagi, semuanya serba pakai uang.

Contoh lain yang saya ingat, ketika pemugaran musholla "An - Nur" di RT saya yang memang sudah tidak layak, dan seluruh warga RT secara bergotong royong saling bahu membahu baik menyumbangkan tenaga dan materi demi terselesaikannya pemugaran musholla.

Dari contoh di atas, saat ini sulit untuk ditemukan. Hal ini terjadi, karena proses akulturasi budaya masyarakat perkotaan dengan masyarakat pedesaan yang disebabkan oleh urbanisasi besar-besaran dari desa ke kota. Masyarakat desa yang sebagian besar terkesan polos, akhirnya mereka dengan mudah menerima budaya lain tanpa melakukan filter. Di samping urbanisasi, kemajuan teknologi komunikasi, juga memberikan andil besar dalam merubah budaya masyarakat desa.

Untuk menjaga nilai-nilai positif masyarakat pedesaan dan menyaring masuknya budaya-budaya lain yang kurang cocok, hendaknya pemerintah desa dan tokoh masyarakat pedesaan berkewajiban untuk mengkampanyekan dan menanamkan nilai-nilai ”ke’arifan lokal” masyarakat lingkungan desa tersebut. Namun, di samping itu, keseimbangan perlu dipegang. Oleh karenanya, prinsip ”Memegang nilai-nilai lama yang layak (Shalih) dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih layak (Ashlah).” perlu mendapat perhatian.

Selasa, 01 September 2015

PROGRAM PENGOBATAN GRATIS DARI KKN UMM '87


Dalam rangka menciptakan masyarakat yang sehat terutama warga yang kurang mampu (miskin), Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Muhammadiyam Malang (UMM)'87 mengadakan Pengobatan Gratis bagi Keluarga kurang mampu yang langsung bekerjasama dengan Rumah Sakit "Al-Basyhiroh" Turen Kabupaten Malang. 

Program ini pun mendapat respon positif dari Bapak Kepala Desa Karangsuko begitu juga disambut antusias oleh para warga yang kurang mampu.
"program yang sangat bagus mbak, monggo (red.silahkan) dilanjutkan, kami dari pihak desa akan sangat mendukung dan siap memfasilitasi apa yang mbak dan mas butuhkan" terang Kepala Desa Karangsuko kepada Koordinator Program dari UMM.
Kegiatan tersebut dilaksanaka pada :
Hari        : Senin
Tanggal  : 10 Agustus 2015
Tempat   : Pendopo Desa Karangsuko


Warga yang didaftar dari rumah ke rumah melalui data dan keterangan dari Ketua RT setempat Berjumlah 150 Orang, yang sebagian besar adalah warga Lansia (Lanjut Usia).
Dalam kegiatan tersebut tidak hanya pengobatan gratis saja diantaranya :
1. Chek-up Kesehatan.
2. Obat Gratis dll.




Senin, 31 Agustus 2015

KARNAVAL UMUM DESA KARANGSUKO


Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI yang ke 70, Desa Karangsuko mengadakan acara Karnaval Umum yang menjadi acara rutinan setiap tahun dalam menyemarakkan dan ikut berpartisipasi dalam acara Peringatan Hari Besar Nasional (PHBN).
Karnaval ini sendiri diiukuti oleh 20 Peserta yang terdiri dari Instansi Pendidikan, Lembaga Pendidikan Islam, dan Seluruh Warga setempat.
Acara karnaval sendiri pada hari Senin, 24 Agustus 2015 bertempat (start) di Lapangan Olahraga Desa Karangsuko.

Karnaval dimulai pada pukul 13.00 WIB di iringi oleh Pembukaan Pemberangkatan oleh Kepala Desa Karangsuko (Bpk. Rusman) dilanjutkan oleh iring-iringan Pasukan Bendera dari Yayasan Pondok Pesantren Al-Khoirot menandai kebarangkatan peserta Karnaval.

Dalam kepanitiaan sendiri Pihak Desa dibantu oleh :
1. Karangtaruna "ARTIP" Desa Karangsuko
2. KKN Universitas Muhammadiyah Malang
3. KKN Universitas Kanjuruhan Malang
4. KKN Universitas Islam Malang
5. KKN STIE Widya Dharma Turen









Rabu, 12 Agustus 2015

BANK DUNIA Kagumi PLTMH Sumber Maron


Perwakilan Bank Dunia, melalui WSP (Water and Sanitation Program) mengunjungi Sumber Maron, Jumat (10/7) kemarin. Dalam kunjungannya, WSP memuji kinerjan dan penggunaan bantuan dana yang diberikan Bank Dunia pada tahun 2011 lalu. Dari sumber air yang hanya dimanfaatkan sebagai irigasi, kini dapat digunakan menjadi berbagai fungsi.

Di antaranya untuk pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH), sumber air bersih bagi warga, sumber irigasi, dan tempat wisata. Sumber Maron yang ada di Desa Karangsuko Kecamatan Pagelaran memang terus berkembang sampai sekarang. Hal ini juga mempengaruhi perekonomian warga.

Dalam kunjungan, perwakilan dari WSP Iyoti Sukla senior manajer WSP Global, terlihat heran dengan kemajuan yang ada di Sumber Maron. Karena sebelumnya bantuan dari WSP adalah untuk pengelolan air bersih untuk masyarakat, namun kini telah berkembang dan meningkatkan ekonomi warga sekitar.

Didampingi Sayid Muhammad, ketua Badan Pengelola Sarana Air Bersih dan Sanitasi (BP.SAB &S) Sumber Maron, dan petugas dari Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang, mereka berkeliling melihat PLMH, dan kemajuan dari pengelolaan air besih di Sumber Maron. Dijelaskan Sayid, kunjungan dari WSP kali ini adalah melihat hasil dari bantuan yang telah diberikan sebelumnya.

Dari bantuan tersebut digunakan untuk membangunan PLTMH, yang menghasilkan daya listrik sebesar 30 ribu watt. “Hasil listrik dari PLTMH digunakan untuk memompa air ke atas dan disalurkan ke warga,” kata dia. Karena, jika tanpa bantuan PLTMH, untuk biaya listrik memompa air sangat tinggi.

Kini, ada empat desa yang sudah teraliri air dari Sumber Maron. Yakni Desa Karangsuko, Kecamatan Pagelaran dan tiga desa di Kecamatan Gondanglegi, yakni Desa Sukosari, Panggungrejo, dan Gondanglegi Kulon. “Itu untuk mengaliri sekitar 1.670 rumah di empat desa tersebut,” jelas Sayid. Harga air bersih Sumber Maron pun relatif murah. Mulai Rp 1.500 per meter kubik, untuk luar Desa Sumber Maron, dan Rp 750 per meter kubik untuk di Desa Karangsuko.

Dari hasil tinjuan dari WSP, menurut Sayid, mereka puas dengan pengelolaan Sumber Maron. “Karena pentingnya air sehingga perlu dijaga dan dirawat usmber mata air, untuk mencukupi kebutuhan bersama,” kata dia. Apakah akan adan bantuan tambahan? Dia masih belum mengetahui.(adk/lid)

sumber berita :http://radarmalang.co.id 


Kamis, 06 Agustus 2015

Tender Bermasalah, Kabupaten Kehabisan Blangko E-KTP

KEPANJEN – Kabupaten Malang kehabisan stok blangko Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP). Habisnya blangko e-KTP ini telah terjadi sejak akhir Juli lalu hingga sekarang. Diprediksi habisnya stok ini masih akan berlangsung sampai dua bulan ke depan. Sehingga, baru pada bulan Oktober mendatang warga Kabupaten Malang bisa mendapatkan layanan e-KTP.
Menurut Purnadi, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Malang mengatakan, habisnya blangko e-KTP dikarenakan pasokan dari pusat yang terhenti. Hal ini dialami diseluruh Indonesia, tidak hanya di Kabupaten Malang. “Kehabisan blangko e-KTP sejak Juli ini, karena pengiriman dari pusat yang terlambat,” kata Purnadi.
Seharunya jika tidak ada keterlambatan, jadwal pengiriman blangko e-KTP untuk Kabupaten Malang berlangsung pada bulan Juli lalu. Namun, kenyataannya sampai saat ini belum belum ada. Dari informasi yang dia peroleh habisnya stok dikarenakan beberapa hal. Di antaranya sudah habisnya tender pengadaan blangko e-KTP dengan perusahaan yang lama. Kemudian juga dikarenakan gagalnya tender pengadaan blangko e-KTP dengan perusahaan yang baru. “Info dari Jakarta yang saya terima gagalnya tender, sehingga harus mengulang,” katanya.
Sementara untuk tender yang baru, tambah dia, kemungkinan akan berlangsung pada bulan Agustus sampai September ini. “Tender kurang lebih akan beralangsung dua bulan ini (Agustus sampai September),” ungkap dia. Sehingga untuk layanan e-KTP akan berhenti. Namun untuk mengantisipasi tidak adanya e-KTP ini, dispendukcapil membuka layanan untuk pembuatan surat keterangan (SK). “Surat ini fungsinya sama dengan e-KTP,” jelas dia. Sehingga, warga tidak perlu khawatir. SK dikeluarkan selama blangko belum ada. “Ini dilakukan untuk pengganti sementara, menunggu stok blangko turun,” kata dia.
Dijelaskan Purnadi, mengenai pengeluaran SK, pihaknya telah berkomunikasi dengan pihak terkait. “Seperti samsat atau pun bank, sudah kami surati. Dan menjelaskan bahwa surat keterangan berfungsi sama dengan E-KTP,” tutur Purnadi. Dari dinas terkait juga sudah menyetujui, dan mengetahui sehingga warga tetap dapat melakukan pengurusan yang mengharuskan menggunakan e-KTP.
Untuk SK, tambah dia, karena diperkirakan pada Oktober nanti blangko e-KTP sudah ada maka masa berlakunya sampai bulan November. “SK ini dikeluarkan bagi mereka yang sudah melakukan perekaman di sini (dispendukcapil),” lanjut Purnadi. Sampai saat ini ada sekitar 100 pemohon e-KTP, yang diganti dengan SK. “Meski stok belum turun, untuk layanan sampai saat ini tidak ada gangguan,” imbuh dia.
Sejak tahun 2014 lalu, Kabupaten Malang telah mendapatkan jatah blangko e-KTP sekitar 40 ribu. “Kalau tidak salah itu diturunkan selama lima kali,” terang dia. Sementara sampai saat ini ada sekitar 200 ribu warga yang belum melakukan perekaman untuk e-KTP. Kemungkinan meraka masih menggunakan KTP yang lama. “Padahal sejak tahun 2014 lalu KTP yang lama sudah tidak berlaku,” terangnya.
Dari data dispendukcapil, yang wajib untuk e-KTP ada sekitar 2,2 juta warga. Namun data dari kementerian hanya ada sekitar 1,9 juta. “Sisanya ini nanti yang akan terus dikejar, untuk pembuatan e-KTP,” terang dia. Sementara dari pengadaan blangko yang dia tahu nanti akan berbeda pada tahun sebelumnya. “Kalau sebelumnya dari pusat kemudian langusng didistribusikan ke daerah, kalau nanti dari pusat, terus ke provinsi, kemudian baru kabupaten atau kota,” tukas Purnadi.

Ratusan SDN di Kab Malang Tanpa Kepala Sekolah


Sedikitnya 130 Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kabupaten Malang tidak mempunyai Kepala Sekolah (Kasek). Kepastian itu terungkap saat Rapat Kerja (Raker) Kasek se-Kabupaten Malang yang diselenggarakan Dinas Pendidikan setempat.
Menanggapi kekurangan kasek tersebut, Bupati Malang Rendra Kresna usai membuka raker kasek di Rumah Makan Bojana Puri, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Selasa (21/5/2013) siang mengatakan, dalam waktu dekat 130 jabatan Kasek SDN yang kosong akan diisi. “Insya Allah dalam minggu-minggu ini 130 SDN yang tidak ada kaseknya akan kita penuhi,” tegas Rendra.
Menurutnya, saat ini pihaknya sudah menerima laporan dari Dinas Pendidikan. Kekosongan jabatan itu dikarenakan kasek yang lama sudah pensiun. “Karena pensiun massal kemarin. Sehingga, 130 SDN tidak punya kasek,” paparnya.
Sejauh ini, belum ada PNS pengganti untuk kursi di 130 kasek. Kalaupun ada, otomatis siapapun atau yang sudah pernah menjadi wakasek bisa kita beri tugas jabatan sebagai kasek. “Posisi kasek itu hanya tugas jabatan. Tidak perlu ada pelantikan. Hanya kita kukuhkan saja. Mudah-mudahan awal Juni semua sudah terisi nanti,” harap Rendra.

Asyiknya Berpetualang di Museum Malang Tempo Doeloe


ingin berkunjung ke museum dengan nuansa yang berbeda? Ya, Museum Malang Tempo Doeloe jawabannya. Kalau museum pada umumnya terlihat kuno dan kurang menarik, di museum ini Anda akan menjumpai suasana fresh dan sangat modern. Image horor dan jadul samasekali tidak tampak di museum ini. Tak lengkap rasanya jika berwisata ke kota apel tidak mengunjungi Museum Malang Tempo Doeloe.
foto: www.halomalang.com
                    foto: www.halomalang.com
Museum Tempo Doeloe memang terbilang masih sangat baru. Terletak tidak jauh dari area belakang Balai Kota Malang tepatnya di Jalan Gajah Mada, museum ini diresmikan pada tanggal 22 Oktober 2012 oleh Dwi Cahyono. Ia merupakan pemilik museum sekaligus Ketua Dewan Kesenian Malang serta penggagas Festival Malang Kembali Malang Tempo Doeloe.
Kondisi luar bangunan yang terkesan modern membuat pengunjung tidak akan mengira kalau di dalamnya terdapat sebuah museum yang unik. Konsep museum ini memang tidak seperti museum kebanyakan di Indonesia. “New Concept Modern Live Museum” adalah konsep yang ditawarkan Museum Malang Tempo Doeloe. Berbagai informasi menarik akan kita dapatkan di museum ini. Mulai dari ilmu paleontologi, pra sejarah, sejarah, hingga perang kemerdekaan.
foto: www.liburananak.com
foto: www.liburananak.com
Di dalam Museum Malang Tempo Doeloe terdapat 20 ruang atau wahana dengan berbagai konsep. Masuk ke dalam wahana paling awal, pengunjung  akan diajak berpetualang ke zaman 1,5 juta tahun yang lalu. Dalam ruangan ini terdapat berbagai koleksi benda-benda peninggalan sejarah, serta cara mengenali umur benda purbakala tersebut. Terdapat pula informasi asal-usul wilayah kota Malang yang dikelilingi oleh berbagai gunung besar yaitu G. Kelud, G. Kawi, G. Welirang, G. Arjuna, G. Bromo, G. Tengger, dan G. Semeru. Informasi ini diperjelas dengan adanya video yang diputar, begitu pula dengan beberapa wahana-wahana berikutnya.
Selanjutnya, pengunjung akan diajak ke masa kota Malang saat tahun 760 Masehi, dimana terdapat hutan masa Kerajaan Kanjuruhan. Setelah melewati hutan tersebut, kita bakal diajak untuk mengenal Kerajaan Singasari. Di dalamnya terdapat suatu wahana yang menggambarkan pertapaan Ken Arok saat masih menguasai Kerajaan Singasari.
foto: www.indohay.com
                       foto: www.indohay.com
Perjalanan berlanjut ke masa kerajaan selanjutnya seperti Kerajaan Kediri, Kerajaan Majapahit, dan sebagainya. Di dalam ruangan ini terdapat silsilah lengkap raja-raja yang berpengaruh disertai dengan berbagai miniatur arca dan patung lilin. Yang menarik, terdapat diorama adegan penculikan Ken Dedes oleh Tunggul Ametung yang dramatis. Di sana juga terdapat koleksi prasasti dan buku-buku asli sejarah Jawa dan Indonesia. Tak hanya itu, ada pula berbagai miniatur rumah masa lalu yang dilengkapi dengan peralatan-peralatan manusia pra sejarah. Menariknya, di sini pengunjung diperbolehkan untuk mencoba membuat kerajinan dari tanah liat, menumbuk jagung dengan alat tradisional, memainkan permainan tradisional dari batok kelapa, dan lain-lain.
Selanjutnya, kita akan melewati zaman perkembangan seperti zaman manusia mulai mengenal kerajinan tembikar, kerajinan besi yang memperlihatkan alat-alat untuk membuat keris, alat-alat unik dan bahan-bahan untuk memasak seperti mixer tempo dulu, penangkap tikus, dan koleksi rempah-rempah. Dari ruangan ini maupun area lainnya, wisatawan akan mendapatkan banyak sekali pengetahuan. Ditambah lagi pada pintu tiap area/ruang terdapat tahun kejadian yang akan membantu pengunjung memahami timeline sejarah yang sedang dilewati.
foto: www.nrmnews.com
foto: www.nrmnews.com
Memasuki wahana baru, kita akan melewati zaman saat para pendatang dari negara luar masuk ke nusantara. Terdapat ilustrasi lengkap seperti lukisan, peta Indonesia, awal mula pendudukan Belanda, dan lain-lain. Koleksi yang dihadirkan ada banyak sekali seperti foto, gambar asli lambang kota Malang, dan dokumen-dokumen asli yang mempengaruhi perkembangan kota Malang. Semua koleksi di museum ini ternyata sudah dikumpulkan oleh pemilik museum sejak 15 tahun yang lalu. Sebagian besar koleksi di Museum Malang Tempo Doeloe ini asli dan beberapa merupakan imitasi. Oya, prasasti yang terdapat di museum ini didatangkan dari Skotlandia oleh pemilik museum yang data-datanya didapatkan dari dokumen Belanda.
Wahana berikutnya cukup menarik sebab menampilkan koleksi foto hitam putih yang dipajang di seluruh sisi dinding dan plafon. Ruangan tanpa tulisan ini asyik sekali karena Anda bisa menebak-nebak sendiri berbagai bangunan kolonial Belanda dan tempat-tempat di Malang di masa lampau.
foto: www.batikimono.blogspot.com
               foto: www.batikimono.blogspot.com
Setelah melewati ruangan penuh foto, pengunjung akan diperlihatkan silsilah dan foto-foto para pemimpin kota Malang. Mulai dari keturunan orang Belanda hingga orang Indonesia asli, sampai foto pemimpin kota Malang ke 45 yaitu walikota Malang saat ini. Masa pendudukan Jepang di Malang juga dihadirkan di sini. Terdapat penjara besi serta koran-koran dan majalah asli Jepang yang pernah terbit di Malang. Uniknya, selain terdapat alat-alat elektronik masa lalu juga terdapat puluhan topi tentara yang ditempelkan menjulang tinggi di tembok.
Ilustrasi Rapat KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) yang pernah diadakan di Malang juga sangat menarik. Terdapat patung Bung Hatta yang memimpin rapat serta koleksi peralatan jadul seperti pemutar film dan faksimile. Selanjutnya adalah ruangan Malang Bumi Hangus, yang menampilkan foto-foto bangunan kota Malang yang dibakar. Ditampilkan pula benda-benda peninggalan pejuang dan pahlawan TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar). Ada Bung Hatta, maka ada pula Bung Karno. Di ruangan sebelahnya terdapat patung Bung Karno dan dokumentasi saat ia meresmikan monumen Tugu Malang.
foto: www.tripadvisor.co.uk
foto: www.tripadvisor.co.uk
Wahana terakhir menampilkan kota Malang saat ini, dengan replika Festival Malang Kembali Malang Tempo Doeloe. Oya, Museum Malang Tempo Doeloe ini mendapat banyak apresiasi dari para tokoh sejarah dan budaya di Indonesia. Suasana atraktif dan menyenangkan membuat museum ini sangat baik dijadikan sarana pembelajaran bagi generasi muda.
Museum Malang Tempo Doeloe buka setiap hari mulai pukul 08.00-17.00 WIB. Harga  tiket masuk untuk umum adalah Rp 25.000, pelajar Rp 10.000, dan khusus warga Malang sebesar Rp 15.000. Selain tiket, Anda juga akan mendapatkan merchandise cantik dari museum ini.
Untuk mencapai Museum Malang Tempo Doeloe, Anda bisa naik kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Jika menggunakan kendaraan pribadi, tinggal arahkan kendaraan Anda menuju pusat kota Malang atau Balai Kota Malang. Lokasi museum berada di belakang area balai kota, tepatnya di Jl. Gajah Mada No. 2. Jika menggunakan kendaraan umum, Anda bisa naik bus dengan kode ADL atau AL dari Terminal Arjosari.
Puas berkeliling museum, sempatkan diri Anda untuk mengunjungi tempat menarik terdekat seperti Balai Kota MalangTugu MalangPasar Splendid, dan Museum Brawijaya. Kalau masih tertarik mengunjungi wisata sejarah, bisa pula mampir ke Museum BentoelMuseum Mpu Purwa, dan Museum Zoologi Frater Vianney Malang. Selama di Malang, Anda dapat beristirahat di Tugu Malang HotelHotel Sahid Montana,Hotel MutiaraSantika Premiere Malang Hotel, atau Gajahmada Graha Hotel.

Gending Malang Harus Dimainkan dengan Bebauan Dupa, Ini Alasannya

Malang, Jawa Timur memiliki suara gending tersendiri. Alunan gending Malang memiliki banyak varian komposisi nada dan membuat orang ingin menari.
Kendati demikian, gending Malang tak populer, dan sudah tak pernah dimainkan lagi di tengah masyarakat.
Alunan gending jawa terdengar dari sebuah rumah berdinding anyaman bambu, alias gedek, bercat putih, Jalan Pelabuhan Bakauhuni, Kecamatan Sukun, Kota Malang pada Rabu (5/8/2015) siang.
Suara musik yang mereka mainkan tak jauh berbeda dengan gending Mataraman, atau dari Kerajaan Mataram, yang merupakan pusat perhatian kesenian tradisional selama ini. Suara gending yang terdengar kala itu harmonis dan pelan.
Kendati demikian, komposisi ketukan, variasi ketukan, serta nada yang para pelaku seni ini pilih sangat beragam. Variasi nada dari gamelan yang mereka mainkan ada banyak, dan terus berulang-ulang.
Suara gendang yang mereka mainkan juga terdengar sangat keras, dan menggema tak seperti gending Mataraman. Usut punya usut, gendang mereka saat itu berukuran besar. Diameternya sekitar 50 cm. Gendang saat itu dimainkan oleh Sumantri (61), pemilik rumah tersebut.
Sumantri bercerita, dirinya dahulu merupakan pemain Kendang Jegdong untuk pertunjukan wayang Jegdong. Nama Jegdong diambil dari iringan music pembuka kepyang, kendang dan gong. Ketika tiga alat musik ditabuh, muncul bunyi ‘jek dong’. Sayangnya, Wayang Jegdong saat ini sudah punah.

Sabtu, 16 Mei 2015

PELANTIKAN KAWULA MUDA BERSATU Se KECAMATAN PAGELARAN

Pelantikan Pengurus Kawula Muda Bersatu (KMB) Kecamatan Pagelaran dan Desa Se-Kecamatan Pagelaran Periode 2014 - 2019 Se Kecamatan Pagelaran oleh Bapak BUPATI MALANG H. Rendra Kresna yang dilaksanakan pada hari Senin, 6 April 2015 yang bertempat di Gedung Olahraga Desa Kanigoro Kecamatan Pagelaran.


KMB (Kawula Muda Bersatu) adalah suatu organisasi kepemudaan yang didirikan langsung oleh Bpk. Bupati Malang, H.Rendra Kresna pada awal tahun 2014. KMB adalah suatu wadah bagi para pemuda dan pemudi yang berada di Kabupaten Malang untuk berkreasi dalam pembangunan yang di desa maupun kecamatan agar bisa bersinergi dalam segala bidang yang ada di Kabupaten.

Di Desa Karangsuko Kec. Pagelaran sendiri anggota KMB Desa berjumlah 51 orang yang terdiri dari pemuda pemudi yang mempunyai Potensi dari segi SDM maupun kemampuan dalam berkreasi demi pembangunan Desa Karangsuko yang maju dan berdaya saing dengan desa-desa yang khususnya berada di kecamatan Pagelaran maupun desa-desa yang berada di Kabupaten Malang pada umumnya.

Kepala Desa Karangsuko Bpk. RUSMAN menuturkan bahwa "dengan dibentuknya KMB ini diharapkan desa Karangsuko untuk bisa lebih berkreasi dan maju dalam segala bidang yang ada baik pembangunan, pendidikan dan pendayagunaan segala potensi yang ada di Desa Karangsuko"...

 
Terima Kasih Atas Kunjungan Anda, Semoga Bermanfaat !!!